Sebagai salah satu mahasiswa di salah satu universitas terbaik disemarang yaitu universitas diponegoro merupakan salah satu takdir baik yang membuat aku belajar banyak mengenai kehidupan. Merantau di daerah yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya tanpa keberadaan orang tua, berusaha menjadi sosok mandiri untuk tetap mampu bertahan ditengah cultural shock yang sempat dirasakan beberapa hari semenjak menjadi mahasiswa baru. Dengan karakter yang berbeda-beda dan asal dari setiap mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia membuat saya belajar mengenai menghargai perbedaan. Toleransi itu indah. Hidup menjadi lebih damai dan tentram tanpa ada rasa dendam. Memiliki teman-teman yang juga kaum rantau membuat kita sama-sama saling menguatkan untuk saling mendukung satu samalain. Di perkuliahan ini saya mencoba banyak hal mulai dari organisasi untuk menambah relasi pertemanan di universitas dan juga kegiatan volunteering di luar negeri. Saya sangat menyukai tantangan baru jadi saya selalu mencoba memanfaatkan peluang disekitar saya untuk saya mampu memiliki pengalaman baru. Saya sadar bahwa belajar itu tidak ada batasnya baik waktu, tempat maupun dengan siapanya. Tidak ada sesuatu yang berharga yang didapatkan dengan jalan yang mudah. Semua perlu kerja keras dan air mata dalam prosesnya. Sehingga keberhasilan akan didapatkan jika kita yakin pada diri sendiri. Isu mental semasa perkuliahan menjadi sangat penting dan jarang dibahas sebelumnya semasa masih di SMA maupun dilingkungan keluarga itu sendiri. Mental health merupakan kesehatan mental yang perlu disadari oleh setiap individu untuk melindungi diri dari kemungkinan terburuk terjadi akibat tekanan lingkungan dan permasalahan hidup lainnya menghampiri kehidupan setiap individu. Waktu masih awal perkuliahan dengan penyesuaian yang saya perlu hadapi membuat saya terkadang memilih untuk sendiri, karena takut menjadi beban untuk orang lain. Menjadi sosok kuat dengan menghadapi semuanya sendiri merupakan kesalahan terbesar dalam hidup. Karena bagaimanapun sebagai manusia makhluk social perlu melakukan komunikasi yang baik dengan orang lain sehingga segala permasalahan lebih mudah mencari jalan keluarnya dibandingkan diselesaikan sendiri. Menyadari baha diri sendiri memiliki keterbatasan dalam melakukan sesuatu
Semenjak pandemi covid 19 kegiatan belajar mengajar beralih menjadi metode baru yaitu daring (online). Sistem kbm seperti ini membuat saya perlu beradaptasi lagi karena saya termasuk mahasiswa yang lebih menyukai belajar di suatu tempat belajar (kampus) dengan ada kehadiran dosen dan murid. Sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif. Belajar dirumah ditemani keluarga menjadi pengalaman baru, dimana sebagai anak masih mempunyai tanggung jawah sebagai anak untuk membantu orang tua. Tetap menjalankan kegiatan pekerjaan rumah tangga seperti mengepel, meyapu, mencuci piring disela-sela kesibukan perkuliahan dan organisasi. Tentu hal ini perlu penyesuaian dengan menentukan tujuan agar kegiatan yang dijalani mampu terasa lebih mudah dan menyenangkan. Interaksi bersama teman-teman beralih dengan media laptop atau telpon genggam sehingga hampir 12 jam lebih berkutat di layar gadget. Yang terkadang membuat mata lelah dan kegiatan belajar terasa lebih lama karena waktu yang lebih fleksibel untuk melakukan perkuliahan sehingga tugas banyak diberikan dengan alas an untuk mengisi waktu luang semasa pandemic. Besar harapan untuk mampu menjalankan kuliah secara offline agar mampu berinteraksi normal dengan teman-teman secara langsung. Dan refreshing dengan melakukan liburan untuk rehat sejenak dari kepenatan hidup akan ekspetasi orang lain dengan realita sendiri yang berbeda. Menikmati alam untuk berterimakasih atas waktu yang diberikan untuk mampu menikmati hasil ciptaan tuhan. Dan merasakan setiap detik waktunya yang berharga yang tidak akan disia-siakan.
Komentar
Posting Komentar